Sejarah Kampung Inggris Dari Awal Hingga Bisa Sampai Sekarang

0
108

DC Two English School – Kecamatan Pare yang kini di kenal masyarakat luas dengan nama kampung Inggris menjadi terkenal di seluruh tanah air dan Asia karena di sinilah antropolog kelas dunia, Clifford Geertz – yang saat itu masih menjadi mahasiswa doktoral di Harvard University melakukan penelitian lapangannya pada tahun 1956 yang kemudian ditulisnya sebagai sebuah buku yang berjudul The Religion of Java. Dalam buku tersebut Geertz menyebut Pare dengan nama “Modjokuto”.

dellash-william

Di Pare, antropolog yang juga lulusan dari Antioch Collage ini sering berdiskusi dan berkonsultasi dengan Kyai Yazid ibnu Thohir yang merupakan perintis adanya Kampung Inggris, yang juga merupakan salah satu narasumber yang membantu antropolog asal San Francisco-California tersebut dalam menyelesaikan bukunya dan terbit pada tahun 1960. Clifford James Greets lahir pada tanggal 23 agustus 1926 dan meninggal pada tahun 2006 oktober di Philadelphia pada usia 80 tahun.

Pare termasuk kota lama. Ini terbukti dari keberadaan dua candi tidak jauh dari pusat kota, yakni Candi Surawana dan Candi Tegowangi, serta keberadaan patung “Budo” yang berada tepat di pusat kota. Ketiga peninggalan ini membuktikan bahwa Pare telah lahir ratusan tahun lalu.

Dahulu di Pare terdapat jalur kereta api dari Kediri ke Jombang, tetapi sekarang hanya tersisa relnya saja dan Stasiun Pare. dahulu Stasiun Pare mempunyai jalur cabang menuju Stasiun Papar. Hanya sampai sekarang belum diketahui dengan pasti kapan kota Pare berdiri dan siapa pendirinya. Namun warga sekitar mengatakan bahwa pendiri pertama kota Pare adalah Kyai Nur Wahid. Namun sejarah secara jelasnya belum diketahui secara pasti sejak kapan kota ini berubah dari nama Modjokuto dinamakan menjadi PARE. Karena ada sebuah tugu yang masih menggunakan ejaan lama Pare masih ditulis dengan nama PAREE dengan huruf dobel EE di belakang.

kampung inggris

Pare terletak 25 km sebelah timur laut Kota Kediri, atau 120 km barat daya Kota Surabaya. Pare berada pada jalur Kediri – Malang dan jalur Jombang – Kediri serta Jombang – Blitar. Sudah lama ada wacana Pare dikembangkan menjadi ibu kota Kabupaten Kediri, yang secara berangsur-angsur dipindahkan dari Kota Kediri.

Kota Pare yang berada pada ketinggian 125 meter di atas permukaan laut (DPL) ini mempunyai udara yang tidak terlalu panas. Berbagai jenis jajanan dan makanan enak dan higienis dengan harga “kampung” dapat dijumpai dengan mudah di kota kecil ini. Berbagai infrastruktur dan fasilitas kehidupan kota juga dengan mudah dapat dijumpai seperti hotel, rumah sakit (yang besar HVA dan RSUD rumah bersalin yang lengkap pun juga ada), ATM bersama, warnet 24 jam ber-AC, masjid, dan lain sebagainya. Adapun 4 gedung bioskop yang tidak aktif lagi, namun beberapa ada yang disulap menjadi lapangan badminton. Di kota ini belum ada Mall, karena kota ini masih sedikit sederhana dan tidak ada dunia malam sama sekali kecuali angkringan ala Jogja. Banyak cafe kopi dengan live music dan 3 tempat karaoke di pusat kota. Harga jajanan mulai dari gorengan dengan harga Rp.100,- sampai dengan Rp.1000,- hingga rata-rata seporsi makanan di warung dengan harga Rp. 5000

Pare memiliki tanah yang subur bekas letusan Gunung Kelud dan tidak pernah mengalami kekeringan. Produk agraria andalan dari Pare adalah bawang merah, biji mente, melinjo, rambutan, jagung, dan sawi. Sedangkan oleh-oleh khas dari Pare antara lain adalah tahu kuning, stik tahu dan gethuk pisang. Di Pare sudah lama bermunculan industri menengah bertaraf internasional, seperti industri plywood dan pengembangan bibit-bibit pertanian, perikanan dan juga industri senapan angin. Tempat-tempat rekreasi pun telah ada semenjak tahun 1970-an meskipun sederhana, seperti Pemandian “Canda-Bhirawa” Corah dan alun-alun “Ringin Budo”serta sentra ikan hias di dsn Surowono Desa Canggu, Goa Surowono, dan Taman Kili Suci.

Kecamatan Pare memiliki beberapa tempat wisata, yaitu:

  • Masjid An-Nur Pare, di Tulungrejo
  • Garuda Park, di Pelem
  • Stadion Canda Birawa, di Pelem
  • Kampung Inggris Pare, di Pelem dan Desa Tulungrejo
  • Candi Surawana di Canggu
  • Candi Tegowangi di DesaTegowangi
  • Taman Kili Suci di Tulungrejo

Kecamatan Pare memiliki beberapa sarana kesehatan, yaitu:

  • RSUD Kediri, di Pelem
  • RS HVA Tulungrejo, di Tulungrejo
  • RSIA Nur Aini, di Tulungrejo
  • Brata Medika, di Tulungrejo
  • Puskesmas Pare, di Bendo

Pare terutama Desa Pelem dan Tulungrejo juga dikenal mempunyai potensi pengembangan kursus Bahasa Inggris. Saat ini lebih banyak bermunculan berbagai jenis bimbingan belajar terutama kursus-kursus Bahasa Inggris. Lebih dari 150 buah lembaga bimbingan belajar menawarkan kursus Bahasa Inggris dengan program program S1, D2, D1 atau short course berdurasi 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 5 bulan, dan 6 bulan, Kampung Inggris sangat ramai terutama pada waktu liburan semester.

Tidak hanya kursus bahasa Inggris di Kampung Inggris juga tersedia lembaga kursus yang membuka program kursus bahasa Arab, Jepang, Mandarin, Korea, Spanyol, Jerman dan kursus bahasa Prancis. Dalam hal ini, kota Pare sebagai pusat belajar Bahasa Asing yang murah, efisien dan efektif sudah terkenal hingga keluar Pulau Jawa bahkan Asia Tenggara, Africa dan Timur Tengah. Sebagai efek ikutannya, di daerah Tulungrejo sekarang muncul berbagai jenis tempat penginapan dan kost yang menampung para pelajar dan maupun pekerja. Tarif kos per orang bervariasi dari 50 ribu hingga 500 ribu per bulan. Dan dengan harga kursus mulai dari 50 rb – 150 ribu per minggu hingga 350 ribu – 2,5 juta per bulan.

Pare – Kampung Inggris ini dimulai oleh seorang Kyai bernama Yazid Ibnu Thohir yang konon menguasai 6-9 bahasa asing termasuk bahasa Inggris. Dan salah satu murid dari beliau yang bernama Mr.Kalend membangun kursusan pertama di Pare. Dan pada tahun 2002 Mr. Puthut membangun kursusan bahasa Inggris dengan system English Area dan inilah English Area pertama di Pare yang memiliki sistem.Dan pada semenjak itulah hampir semua kursuan di Pare ber-English Area. Disitulah Pare mulai di kenal dunia hingga saat ini. Semoga informasi ini bisa bermanfaat. Selamat Belajar. – Dellash William